PENTINGNYA PENANAMAN NILAI MORAL DAN AGAMA PADA ANAK USIA DINI


Oleh: Azla Tulmaini, S.Pd

PERKEMBANGAN nilai-nilai moral dan agama adalah kemampuan anak untuk bersikap dan bertingkah laku. Islam telah mengajarkan nilai-nilai positif yang bermanfaat dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini menyebabkan perlunya pengembangan pembelajaran terkait nilai nilai moral dan agama.

Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam ajaran Islam telah dijelaskan bagaimana proses pengembangan nili-nilai agama dan moral pada anak usia dini dapat diterapkan dengan benar.

Hasil analisis melalui pembahasan ditemukan 10 metode penting bagi pengembangan nilai-nilai moral dan agama pada anak usia 5 -6 tahun antara lain adalah (1) bercerita (2) bernyanyi (3) bersyair (4) karyawisata (5)pembiasaan (6) bermain (7) outbond (8)bermain peran (9) diskusi dan (10) keteladanan.

Menurut Syaodih menyatakan bahwa perkembangan nilai-nilai agama dan moral anak usia dini antara lain: anak besikap imitasi (imitation) yakni mulai menirukan sikap, cara pandang serta tingkah laku orang lain, anak bersikap inernalisasi yakni anak sudah mulai bergaul dengan lingkungan sosialnya dan mulai terpengaruh dengan keadaan di lingkungan tersebut, anak bersikap introvert dan ekstrovert yakni reaksi yang ditunjukkan anak berdasarkan pengalaman (Erma Purba, 2013).

Menurut John Dewey, tahapan perkembangan moral sesorang berada pada fase pra konvensional yang memiliki karakteristik sikap dan perilaku anak dilandasi oleh implus biologis dan social (Asti Inawati, 2017). Menurut pendapat para pakar dapat penulis simpulkan bahwa perkembangan moral dan agama anak usia 5–6 tahun adalah suatu kemampuan untuk berinteraksi dengan tingkah laku yang baik sesuai dengan norma-norma, sehingga menimbulkan perilaku yang baik dan buruk.

Pengembangan nilai-nilai moral dan agama anak dapat dikembangkan melalui metode sebagai berikut:

1. Metode bercerita

Metode Bercerita dapat dijadikan metode untuk menyampaikan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Dalam cerita atau dongeng dapat ditanamkan berbagai macam nilai moral, nilai agama, nilai sosial, nilai budaya, dan sebagainya. Ketika bercerita seorang guru juga dapat menggunakan alat peraga untuk mengatasi keterbatasan anak yang belum mampu berpikir secara abstrak (Zainab, 2012.

2. Metode bernyanyi

Metode Bernyanyi adalah suatu pendekatan pembelajaran secara nyata yang mampu membuat anak senang dan bergembira. Anak diarahkan pada situasi dan kondisi psikis untuk membangun jiwa yang bahagia, senang menikmati keindahan, mengembangkan rasa melalui ungkapan kata dan nada. Pesan-pesan pendidikan berupa nilai dan moral yang dikenal- kan kepada anak tentunya tidak mudah untuk diterima dan dipahami secara baik. Anak tidak dapat disamakan dengan orang dewasa (sabiati Amin 2016).

3. Metode bersyair

Pendekatan pembelajaran melalui kegiatan membaca sajak merupakan salah satu kegiatan yang akan menimbulkan rasa senang, gembira, dan bahagia pada diri anak. Secara psikologis anak Taman Kanak-kanak sangat haus dengan dorongan rasa ingin tahu, ingin mencoba segala sesuatu, dan ingin melaku- kan sesuatu yang belum pernah dialami atau dilakukannya. Melalui metode sajak guru bisa menanamkan nilainilai moral kepada anak. Sajak merupakan metode yang juga dapat membuat anak merasa senang, gembira dan bahagia (Arief Armai, 2011)

4. Metode karyawisata

Metode ini bertujuan untuk mengembangkan aspek perkembangan anak Taman Kanak-kanak yang sesuai dengan kebutuhannya. Tujuan berkarya wisata ini perlu dihubungkan dengan tema-tema yang sesuai dengan pengembangan aspek perkembangan anak Taman Kanak- kanak. Tema yang sesuai seperti: binatang, pekerjaan, kehidupan kota atau desa, pesisir, dan pegunungan (Mahyumi Natina, 2012).

5. Metode pembiasaan

Metode Pembiasaan terkait dengan penanaman moral, lebih banyak dilakukan melalui pembiasaan-pembiasaan tingkah laku dalam proses pembelajaran. Ini dapat dilihat misalnya, pada berdoa sebelum dan sesudah belajar, berdoa sebelum makan dan minum, mengucap salam kepada guru dan teman, merapikan mainan setelah belajar, berbaris sebelum masuk kelas dan sebagainya (Ayi Olim, 2010)

6. Metode bermain

Metode Bermain ternyata banyak sekali terkandung nilai moral, diantaranya mau mengalah, kerjasama, tolong menolong, budaya antri dan menghormati teman. Nilai moral mau mengalah terjadi manakala siswa mau mengalah terhadap teman lainnya yang lebih membutuhkan untuk satu jenis mainan. Pengertian dan pemahaman terhadap nilai moral mau menerima kekalahan atau mengalah adalah salah satu hal yang harus ditanamkan sejak dini (Rozalena, 2017.

7. Metode outbond

Outbond merupakan suatu kegiatan yang me-mungkinkan anak untuk bersatu dengan alam. Melalui kegiatan outbond siswa akan dengan leluasa menikmati segala bentuk tanaman, hewan, dan mahluk ciptaan Allah yang lain. Cara ini dilakukan agar anak tidak hanya memahami apa yang diceritakan atau dituturkan oleh guru atau pendidik di dalam kelas. Melainkan mereka diajak langsung melihat atau memperhatikan sesuatu yang sebelumnya pernah diceritakan di dalam kelas, sehingga apa yang terjadi di kelas akan ada sinkronisasi dengan apa yang tampak di lapangan atau alam terbuka (Yunaida, Hana; Rosita, Tita, 2018)

8. Metode bermain peran

Metode ini merupakan salah satu metode yang digunakan dlam menanamkan nilai nilai moral ke pada anak TK. Dengan bermain peran anak akan mempunyai ksadaran merasakana jika ia menjadi seseorang yang dia perankan dalam kegiatan bermain peran ( Vivit Risnawati, 2012)

9. Metode diskusi

Metode ini adalah metode utuk mendiskusikan tentang suatu peristiwa. Biasanya dilakukan dengan cara siswa diminta untuk memperhatikan sebuah tayangan dari CD, kemudian setelah selesai siswa diajak berdidskusi tentang tayangan tersebut. Isi diskusinya antara lsin mengapa hal tersebut dilakukan, mengapa anak itu dikatakan baik, mengapa harus menyanyangi dan sebaginya (Sapendi, 2015.

10. Metode keteladanan

Menurut Cheppy Cahyono, guru moral ideal adalah yang dapat menempatkan dirinya sebagai fasilitator, pemimpin, orangtua dan bahkan tempat menyandarkan kepercayaan, serta membantu orag lain dalam melakukan refleksi ( Cahyatun Mchsunah, 2017)

Kesimpulan

Anak adalah generasi penerus keluarga dan bangsa yang perlu mendapat pendidikan yang baik sehingga potensi-potensi dirinya dapat berkembang dengan pesat, sehingga akan tumbuh menjadi manusia yang memiliki kepribadian yang tangguh dan cakap serta terampil. Oleh karena itu penting bagi lembaga dan keluarga untuk berperan dan bertanggungjawab dalam memberikan berbagai macam stimulasi dan bimbingan yang tepat sehingga akan tercipta gereasi penerus yang berakhlak dan bertingkah laku yang sesuai dengan norma. Pengembangan nilai-nilai moral dan agama anak usia 5-6 tahun bias dilakukan dengan berbagai macam metode antara lain : bernyanyi, bermain, kayawisata, outbond, bermain peran, bercerita, bersyair dan keteladanan.


**) Penulis adalah Guru TK Theobroma IKI, PTPN 7 Unit Ketahun