Pendidikan Karakter Penting Ditanamkan pada Anak Sejak Dini


Oleh : Mike Wilyana, S.Pd

PADA tahun 2045 nanti, negara Indonesia akan merayakan kemerdekaan yang ke 100 tahun, diprogramkan dengan sebutan “100 Tahun Indonesia Emas”.

Diprediksi para pemimpin Indonesia saat itu adalah yang sekarang duduk di bangku SMA/SMK atau sedang kuliah. Maka pada tahun 2045 kelak warga usia sangat produktif adalah mereka yang saat ini masih belajar di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) atau di Taman kanak-kanak (TK).

Melihat gambaran tersebut, yang utama disiapkan adalah generasi berkarakter yang nantinya akan hidup bersaing di tahun Indonesia Emas itu. Maka menjadi sangat penting dikedepankan saat ini adalah pendidikan karakter anak-anak yang masih belajar dan bermain di PAUD/TK.

Makin berkembangnya lembaga-lembaga Pendidikan Anak Usia Dini di suatu daerah semakin baik. Lebih baik lagi dengan lokasi dan jumlah yang memenuhi syarat sehingga bisa terverifikasi oleh pemerintah daerah setempat.

Pada anak usia dini inilah usia tepat menanamkan karakter bagi anak-anak. Karena menanamkan karakter, pembiasaan, dan kecakapan hidup (lifeskill) akan terpatri ketika anak di usia emas (the golden age). Di usia ini orang tua dapat mengajarkan hal-hal sederhana namun bernilai tinggi bagi anak kelak mereka dewasa.

Meskipun sekarang zaman digital, informasi yang cepat dengan teknologi canggih, namun bukan berarti anak dimanjakan dengan gadget. Karena akan menjadi hal yang sia-sia ketika anak-anak kelak menjadi generasi yang hanya pandai main game, hebat di bidang IT (information technology) namun akhlaknya memprihatinkan.

Anak sama sekali tak memiliki tatakrama (sopan santun), tepa salira (toleransi), bahkan tak memiliki kecakapan hidup (lifeskill). Ibarat hanya merapikan tempat tidur sendiri saja tidak bisa. Bahkan menjadi remaja perempuan ‘nguleg lombok’ (membuat sambal) saja tidak mampu. Hanya menjadi generasi yang cakap merebus mi instan.

Pada usia PAUD anak harus mulai dididik karakter Pancasila, karakter Indonesia, akhlak mulia, mengembangkan sikap toleransi, dan ditanamkan budaya ketimuran yang adiluhung.

Sehingga ke depan, ketika anak dewasa dengan karakter baik dan berakhlak mulia, dia akan mudah menerima segala ilmu pengetahuan dan keterampilan.

Selain itu anak juga dibiasakan dengan perilaku terpuji sehari-hari di rumah. Merapikan tempat tidur, mencuci sendiri peralatan makannya, memakai dan melepas kaos kaki dan sepatunya, menyimpan mainan di tempatnya, berkata sopan, jujur, dan suka berbagi. Tidak lupa selalu dibimbing berdoa dan beribadah.

Anak-anak PAUD biasanya akan lebih menurut dengan gurunya, bukan berarti orang tua lepas tangan dalam pendidikan karakternya. Dengan mengingatkan kepada anak akan hal-hal yang diajarkan guru di sekolah, akan lebih baik. Misalnya bertanya kepada anak tentang apa yang diajarkan gurunya, kemudian anak diminta mempraktikkannya di rumah.

Harus dipahami bahwa pendidikan anak yang utama dan pertama adalah keluarga. Maka selain kedua orang tuanya, anggota keluarga yang serumah dengan anak, ikut pula memberikan andil. Harus ada kesepahaman dan kesepakatan anggota keluarga dalam pendidikan anak usia emas.

Misalnya ketika sang ibu mengarahkan pembiasaan anak, anggota keluarga serumah juga mendukungnya. Ketika sang ibu bilang A kepada anak, angggota keluarga lain juga harus bilang A, harus kompak. Jangan ibu bilang A, ayah bilang B, sang kakak bilang C, maka anak bingung siapa yang diturut.

Anak-anak di usia emas adalah peniru ulung, maka berilah contoh perilaku dan karakter baik kepadanya. Pendidikan karakter anak di usia emas sangat penting, karena menjadi kunci pokok untuk mencetak generasi hebat yang produktif di 100 Tahun Indonesia Emas 2045 nanti.


**) Penulis adalah Guru TK Harapan Bangsa, Kecamatan Air Napal, Bengkulu Utara