Pejuang Centang Biru


Oleh : Widhi Puspayana S.Pd

ANGIN berdesir membawa aroma sisa hujan menusuk tulang, aku terbangun saat bungsu meminta susu, bergegas ke dapur untuk mengambil air panas. Selesai membuat susu dan memberikannya dia terlelap kembali. Kantuk enyah dari mataku, memanfaatkan waktu untuk melanjutkan pekerjaan rumah yang tertunda sore tadi. Mengingat besok pagi aku harus ke Kabupaten untuk bertemu teman-teman seperjuangan PPG untuk membicarakan persiapan UKin.

Mesin cuci mulai meraung melaksankan tugasnya, aku mempersiapkan menu untuk sarapan, kebetulan suami jadwal kunjungan ke Putri Hijau. Beliau bagai bang Toyib pergi pagi pulang petang, karena jarak tempat kerja lumayan jauh. Sambil sibuk di dapur sesekali aku ke kamar melihat bungsu takutnya dia terbangun dan rewel.

Saat ke kamar, aku pandangi wajah polos itu, selalu menjadi moodboster walau kadang kenakalannya mewarnai harianku saat kuliah daring, maklum namanya anak-anak. Sementara di sebelah bungsu wajah lelah suamiku terlihat jelas di wajahnya. Pejuang rupiah demi aku dan anak-anak, selalu sehat suamiku, gumamku lirih.

Sayup azan subuh terdengar dari masjid belakang rumah, aku bergegas mengambil wudhu dan membangunkan suami dan anak tertua untuk melaksanakan salat. Selesai salat aku mempersiapkan peralatan yang akan kubawa nanti. Kebetulan urusan dapur sudah selesai.

Acara pertemuan dengan kawan sekitar pukul sepuluh, aku berangkat bersama anak-anak dan ibu, ayahku yang akan mengantar, karena suamiku harus ke Putri Hijau. Perjuangan centang biru untuk sebuah sertifikat pendidik ini butuh perjuangan.

Tidak cukup berjuang sendiri, banyak pihak yang andil di dalamnya. Suamiku sebagai suport material dan spiritual, selalu memberi dukungan untukku. Kawan-kawan seperjuangan adalah salah satu wadah kekeluargaan yang saling mendukung, tanpa kalian apa jadinya aku. Orang tuaku yang selalu menyediakan waktu untuk aku dan anak-anakku, rela membantuku dalam segi apa pun. Perjuangan mereka luar biasa untukku.

“Aku berangkat, Bu,” pamit suamiku membuyarkan semua lamunan pagi ini.

“Iya, Yah, hati-hati” jawabku sambil mengantar suami sampai di emper menunggu beliau berlalu mengendarai mobilnya.

Persiapan sudah siap tinggal menunggu ayah dan ibuku menjemput. Sulung dan bungsu sudah cantik dan riang gembira karena mau ketemu adik gantengnya, Hanan. Aku keliling mengecek pintu dan jendela rumah, rencananya malam nanti menginap di rumah adikku.

Sepanjang perjalanan aku berkelana dalam pikiran, sambil memandang lekat tangan keriput itu memainkan stir.

Sosok tua itu selalu mengkawatirkanku, mungkin aku pantas dijuluki anak bungsu karena masih selalu merepotkannya. Sebenarnya aku mau mengendarai motor saha bersama teman, tetapi beliau bersedia mengantar sekalian bisa bersua dan bermain dengan cucu lelaki gantengnya.

Yah aku menurut saja dan aku pun senang. Walau ada iba melihat lelaki tua itu ikut menyibukkan diri dengan urusanku.

“Sehat selalu ya, Kung. Maaf selalu merepotkan,” gumamku lirih.

Alhamdulillah pertemuan dengan kawan seperjuangan selesai dan membuahkan hasil, sebelum pulang kami menyempatkan diri makan bareng serta poto bersama.

Pejuang centang biru rata-rata ibu-ibu yang awalnya masih gaptek teknologi, wasyukurilah perjuangan kurang lebih hampir empat bulan ini membuahkan hasil, mendekati sempurna paham teknologi. Harapanku semoga kawan-kawan seperjuangan mendapat nilai memuaskan dan lulus semua. Amin.

Ada semua rasa di hati selama menjalani perjuangan ini. Aku kadang merasa tidak sanggup untuk menyelesaikan kegiatan ini, namun semangat itu bangkit kembali saat semua teman saling memberi support.

Beratnya mungkin harus menghadap laptop seharian dengan keadaan fisikku yang kadang lelah sekali. Selalu ingat pesan mbak sulungku, banyak minum air putih, agar badan tidak lemas. Alhasil memang aku yang susah mencintai air putih.

Sehat-sehat badan sebentar lagi usai, gumamku.

Semangat selalu pejuang centang biru!

Argamakmur, 05 November 2020


**) Penulis adalah Guru TK Mutiara Kasih Kecamatan Giri Mulya