Memperbaiki Mental Anak dengan Tetap Introspeksi Diri


Oleh : Nita Fajriah

ANAK adalah Anugerah terindah sekaligus amanah dan titipan yang Allah SWT berikan kepada setiap orang tua.

Kita sebagai orang tua seharusnya memelihara dan mengasuh anak dengan baik sesuai dengan perintah Allah SWT. Pengasuhan yang baik akan mengantarkan anak tumbuh dengan memiliki Akhlakul Karimah yang baik. Sehingga, kita harus sangat berhati-hati dalam bertindak apapun dengan mereka. Penerapan pola pengasuhan yang baik ini dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja, mungkin sebagian orang tua dapat melakukannya pada saat anak tidak melakukan kesalahan.

Nah, saat anak berbuat kesalahan, sebagai orang tua berkewajiban untuk menegur dan meluruskan yang seharusnya.

Akan tetapi saat rasa lelah dan emosi pun menjadi tak terkendali dan lupa bahwa mendidik anak adalah dengan kelembutan, sering kita tidak mampu mengendalikan marah, membentak bahkan memukul. Sehingga membentuk anak ikut berkata kasar, berbohong, tidak patuh dan sikap lainnya yang tidak baik.

Anak akan mengalami trauma secara psikologis yang akan terus berlanjut dimasa depan. Gejala trauma psikologis yang muncul seperti pendiam, selalu merasa takut, terlalu agresif terhadap sesuatu serta masih banyak lagi gejala yang lainnya.

Ada beberapa cara memperbaiki mental anak yang sering dimarah, diantaranya :

1. Bertaubat dan beristiqhfar kepada Allah SWT

Mungkin karena kesalahan kita dimasa lalu yang membuat kita tidak bisa mengontrol emosi terhadap anak-anak sewaktu mendidik dan mengasuhnya.

2. Jangan malu dan jangan ragu untuk meminta maaf

Marah merupakan sifat alami setiap manusia ketika dihadapkan pada sesuatu yang tidak diinginkan. Dengan kita meminta maaf kepada anak dan mengakui kesalahan, anak akan bisa menerima dan belajar memahami bahwa setiap manusia pernah melakukan kesalahan dan jika melakukan kesalahan harus segera meminta maaf

3. Katakan selalu bahwa kita sangat menyayanginya

Anak akan beranggapan bahwa orang tuanya tidak menyayangi karena selalu memarahinya. Memeluk dan mencium anak adalah yang dibutuhkannya.

4. Membiarkan anak meluapkan emosi

Sama seperti kita orang dewasa yang merasakan marah, sedih dan gembira, anak juga bisa merasakan emosi tersebut. Jadi biarkan anak meluapkan emosinya, sehingga akan membantu anak dalam mengatur emosinya agar menjadi stabil.

5. Jangan berbohong

Kita sedang berusaha untuk memperbaiki mental anak yang sering dimarahi, tapi kita jangan sampai menutupi tentang kebenaran dan kesalahan.

6. Luangkan waktu untuk anak

Waktu yang sangat berharga inilah juga dibutuhkan anak. Ini menciptakan kedekatan antara keduanya. Anak merasa nyaman dengan kehadiran orang tua.

7. Berusaha untuk tidak melakukan kesalahan lagi

Ketika kita telah memahami sebab dan akibat jika terlalu sering marah, maka berusahalah untuk tidak melakukannya lagi. Agar dapat menjadi orang tua yang bijak.


**) Penulis adalah Guru PAUD