Dewan Menilai Kelangkaan Gas Melon Tidak Masuk Akal

BENGKULU RU.ID – Kelangkaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 Kilogram (Kg) bersubsidi atau gas melon yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, sejak beberapa pekan terakhir menjadi sorotan DPRD Provinsi Bengkulu.

Dikutip dari SKH Radar Utara (16/9/21), anggota Komisi II DPRD Provinsi Bengkulu, Irwan Eriadi, SE, M.Si meminta Pemerintah Daerah (Pemda) serius menyikapi kondisi ini.

“Sebenarnya kelangkaan LPG 3 Kg ini merupakan salah satu persoalan klasik, karena bukan kali pertama terjadi di daerah kita. Hanya saja kenapa tidak tertangani secara baik. Buktinya saja masyarakat kembali menjerit akibat sulitnya mendapatkan LPG bersubsidi ini,” ungkap pria yang akrab disapa Edi Ramli ini.

Bagaimana tidak, lanjut Edi, ketika LPG bersubsidi itu tersedia, namun harganya selangit. Bahkan informasi yang didengarnya dari masyarakat, harganya tembus Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu.

“Tentu saja harga tersebut jauh diatas Harga Eceran Tertinggi (HET). Seperti di Kota Bengkulu ini saja, HET LPG bersubsidi itu Rp 15.300 per tabung,” kata Edi.

Menurutnya, terkait masalah ini dalam waktu dekat pihaknya bakal berkoordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Provinsi.

“Sehingga diketahui penyebab pasti hingga terjadinya kelangkaan LPG bersubsidi tersebut. Termasuk juga alasan kenapa persoalan ini tidak pernah ada penyelesaian ataupun solusi,” ujarnya.

Lebih juah dikatakannya, kalau alasan Pemda kelangkaan terjadi karena masih ada masyarakat yang tidak layak menggunakan LPG 3 Kg, itu terkesan tidak masuk akal.

“Karena kelangkaan inikan tidak setiap waktu terjadi, lain hal jika terjadinya setiap waktu. Maka dari itu kedepan kita segera menindaklanjuti permasalahan ini,” singkat Politisi Partai Gerindra ini. (tux)